Kita tidak akan pernah tau, sampai mana batas hidup seseorang. Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang dapat memprediksi tanggal kematian seseorang. Bahkan seorang dokter ahli pun hanya dapat menerka-nerka secara medis, bukan secara fakta. Karena kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari dosa dan kesalahan. Karena kita hanyalah manusia yang penuh dengan keterbatasan dan penuh dengan kekurangan. Hanyalah Tuhan yang paling sempurna di dunia ini, dan hanyalah Tuhan yang tau, kapan masa kita akan habis di muka bumi ini.
Ibu adalah salah satu orang paling berjasa dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah ada di dunia ini, tanpa seorang ibu yang mengandung. Kita tidak akan pernah ada di dunia ini, jika ibu kita tidak mau bersusah payah membawa kita dalam perutnya selama 9 bulan. Kita tidak akan pernah ada di dunia ini, jika ibu kita tak mau bersakit-sakitan melahirkan kita. Tak bisa terbayangkan, seberapa banyak pengorbanan yang telah diberikan seorang ibu bagi ktia. Tak bisa terfikirkan, seberapa banyak darah yang keluar dari rahim ibu ketika kita dilahirkan ? Kita yang terus mendesak keluar, perlahan namun pasti merobek mulut vagina ibu. Namun semua itu dilakukannya dengan ikhlas. Dilakukannya dengan tabah, demi melahirkan kita.
Disaat kita mulai beranjak balita, ibu dengan sabar menyuapi kita. Namun apa yang kita lakukan ? Kita malah memuntahi makanan itu dan menambah kerjaan ibu. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah kita, ya mungkin kita memang masih kecil. Di saat kita sudah bisa merangkak, kita menumpahkan semua apa yang ada di dekat kita, dan membuat lantai menjadi kotor. Ibu hanya tersenyum dan membersihkan semua itu dengan ikhlas, dan ibu hanya berfikir itu berarti dia sudah bisa merangkak dengan baik. Di saat kita mulai dapat berjalan, kita berjalan sesuka hati. Di saat ibu sedang menyapu lantai yang kotor, kita berjalan melewati lantai itu. Menempellah debu-debu dan sampah itu ke telapak kaki kita, dan sampah-sampah itu tercecer kembali, sia-sialah pekerjaan ibu. Namun, apa yang ibu pikirkan ? Memarahi kita ? Tidak. Ia hanya berfikir dia sudah bisa berjalan dengan baik.
Di saat kita mulai masuk sekolah, kita merengek-rengek untuk ditemani. Kita meminta ibu untuk duduk mematung di pelataran sekolah sambil menunggu kita pulang. Kita tidak memikirkan, masih banyak pekerjaan di rumah yang menumpuk bagi ibu. Namun ibu sabar menjalaninya, ia akan menemanimu sampai pulang, dan akan mengerjakan semua itu nanti, setelah kita pulang. Di perjalanan, kita merengek-rengek untuk membeli es krim yang lewat, padahal, ibu hanya membawa uang secukupnya untuk membeli sayuran. Karena tidak tega melihatmu merengek, ibu membelikanmu itu, dan mengurungkan niatnya untuk membeli sayuran dahulu. Betapa besarnya pengorbanan ibu bagi kita.
Di saat kita mulai remaja, kita sudah mengenal orang banyak. Kita mulai menemukan jati diri sendiri, dan mulai membantah perkataan ibu. Ibu selalu setia menunggu kita pulang di ruang tamu, padahal ia sudah terlalu letih seharian bekerja. Saat ibu melarang untuk pulang terlalu larut, kita membantahnya dengan menjawab " Anak muda memang harus begitu, bu ! ", lalu masuk ke kamar dan membanting pintu. Ibu hanya tersenyum dan malah menyediakan air hangat bagi kita untuk membasuh diri.
Di saat kita beranjak dewasa, kita mulai terfokus dengan pekerjaan dan pasangan hidup. Kita mulai melupakan pribadi ibu yang dahulu sangat amat dekat dengan kita. Kita mulai melupakan jasa-jasa ibu bagi kita. Di saat ibu memintamu untuk menemaninya semalam saja, kita menolak dengan berbagai alasan. Ibu hanya bisa tersenyum dan berkata ya sudah, tidak apa-apa. Padahal, ibu sangat ingin memeluk dan bercengkrama dengan kita satu malam saja.
Di saat ibu sudah sakit-sakitan, kitapun enggan untuk duduk bersama dengan ibu. Kita enggan untuk bertemu dengannya, dengan alasan nanti virusnya menular. Sebuah alasan yang amat sangat tidak logis, karena virus tak akan menular hanya dengan duduk berdampingan. Ibu tidak meminta banyak, ia hanya meminta kita untuk duduk dan ngobrol bersamanya, namun kita menolak.
Di akhir hidupnya, barulah kita menyadari betapa besar kasih ibu kepada kita. Betapa besar pengorbanan ibu bagi kita. Betapa berat perjuangan ibu bagi kita, namun semua itu tak dapat kita tebus dengan materi. Hanya dengan perlakuan, dapat kita lakukan semua itu. Sayangilah ibumu, dan kedua orangtuamu. Hargailah mereka selagi mereka masih bersama-sama denganmu, karena kita tidak ada yang tau, kapan Sang Pencipta akan menjemput mereka. Untuk teman-teman yang sudah kehilangan ibunya, marilah kita mengambil hikmah dari semua ini, balas semua kesalahan itu dengan menghargai ayah kita selagi ia hidup, karena perjuangan mereka berdua memang tak dapat kita tebus dengan apapun, kecuali dengan menuruti permintaannya.
This post especially for Danang, stay strong, and you'll never walk alone. Kami selalu disini menyertaimu.

keren banget postingan lo sob.
BalasHapusibu emang sosok yang berjasa banget. tidak mengharap pamrih kepada kita.
ah, gua jadi kangen mak di kampung sana.
*ngambilin tisu*
HapusAh, ini nyentuh banget :')
BalasHapusheheh :D sebagai renungan aja mas. Kita semua pasti pernah berbuat kesalahan" di atas kok. Saya juga :D
Hapus