Halaman

Senin, 23 Desember 2013

Unity in Diversity

Akhir-akhir ini, media Indonesia sedang marak dengan keberhasilan Timnas Indonesia mempertahankan predikat juara tanpa mahkota-nya. Memang, ada beberapa media juga yang men-judge kata mempertahankan itu, tapi menurut gue, itu fine-fine aja. Selama gak menyesatkan, gak apa apa toh. Lagian sama aja mempertahankan medali perak dengan gagal mendapatkan medali emas. Toh, di edisi sebelumnya, Timnas kita juga cuma berhasil dapat perak kan ? Realistis aja deh, ga usah kebanyakan mimpi.

Dua hari setelah itu, kita tentunya masih panas dengan tweet-war antara pemain timnas Indonesia, yang bek itu, melawan fans Timnas Indonesia. Yup, dengan bahasa yang bisa dibilang, bukan kelas seorang pemain timnas, ia mencaci maki fans Timnas yang kecewa dengan permainan Timnas. Di satu sisi, gue juga kecewa kok dengan permainan Timnas yang sekarang. No Passion. Ga ada semangat juangnya, beda banget dengan Timnas yang berlaga di Riau kemarin. Oke, it's my opinion. Ga ada yang bisa ngelarang gue beropini kan ? Disisi lain, ya setidaknya pemain Timnas kita udah berjuang di lapangan aja, kita udah angkat jempol. Mereka bisa menendang bola tanpa canggung aja udah, ya bisa dibilang hebat lah. Dari yang awalnya gak diunggulkan karena kalah beruntun, bisa juga akhirnya ke Final, walaupun cuma perak. 

Eniwei, gue ga bakal bahas materi itu kok malam ini. Ya, aneh aja. Ga lucu kalau gue nge-judge mereka berlebihan, sedangkan gue sendiri belum punya kontribusi bagi negara. Kurang lebih kaya quote-nya Opa John F. Kennedy :
" ask not what your country can do for you - ask what you can do for your country. "

Sumber : TribunNews
'
Gak kerasa nih, hari Natal tinggal dua hari lagi. Kalau bahasa medianya itu H-2. Semuanya pada pulang kampung. Ada yang balik ke kampung halamannya, ada juga yang pulang ke kampung halaman punya orang (re : jalan-jalan). Ya setidaknya, diantara dua opsi itu, ada juga yang mudik ke Pulau Kapuk. Kemarin gue sempat dikerjain dengan diajak ke Pulau Kapuk. Gue sempat dua jam kayang di depan laptop, buat nyari lokasi Pulau Kapuk itu dimana. Dalam benak gue, Pulau Kapuk itu letaknya di daerah Nusa Tenggara nan jauh disana, dan tempat produsen kapuk terbesar di Indonesia. Ya, itu dalam pikiran gue yang gak lebih dari sebesar kepalan tangan ini. Akhirnya gue nyerah karena otot-otot punggung dan perut gue mulai nyeri karna dua jam kayang di depan laptop. 
Gue : Pulau Kapuk itu dimana sih ?
Temen : Jiah, lo ga tau Pulau Kapuk itu dimana ?
Gue : Enggak. Dimana sih ?
Temen : Dalam kamar !
Gue : Hah ?
Temen : Kasur, oon -_- !
Setelah dialog tadi, gue semakin menyadari, betapa menyesalnya kedua orangtua gue udah ngelahirin anak se-lemot-oon-tolol-idiot-autis ini.

Oke, itu bukan topik bahas utama gue di tulisan ini. Yang mau gue bahas adalah Unity in Diversity.
Itu apaan sih ? Sejenis nama makanan dari Paris ya ?
 Yaelah. Malah lari ke Paris. Let's me explain you.


Unity in Diversity atau dalam bahasa Indonesia disebut kesatuan dalam keberagaman. Fine-fine aja sih kalau kita sebut Unity in Diversity itu bahasa kerennya dari Bhinneka Tunggal Ika. Toh, maknanya sama. 

Lalu ?
Oke, sebelum gue lanjut, diharapkan yang gak menghargai keberagaman berpendapat dan beragama, silahkan tekan tanda x di pojok browser anda. Berpendapatlah dengan baik.

Tiga hari yang lalu, gue lagi jalan-jalan di timeline twitter. Yang belum tau twitter gue, bisa difollow @kevinfatli_ *promosi*. Gue nemu satu twitpic, yang bisa dibilang cukup menyayat hati gue dan beberapa kaum sejenis gue yang lain.


Sumber : Twitter 

Gue rasa itu foto udah bisa menggambarkan dengan jelas, apa maksud dari tulisan ini. However, gue juga punya kok teman-teman yang beragama Islam, dan gue kenal dekat sama mereka. Ya, contohnya aja kang Hady Mamadecoco, itu salah satu mentor gue di dunia maya, atau mungkin Fajar Nauval dan Arzandie Gianini yang selalu jadi temen gue semasa masih jadi modder game dulu. It's mean, walaupun berbeda kepercayaan, berbeda agama, kita tetap bisa berteman baik.

Gue bukannya gak setuju dengan pengharaman ucapan selamat Natal itu. It's okay. Ga ada yang bisa ngelarang kalau itu udah jadi aturan agama mereka. Kita juga gak bisa seenaknya, nyuruh mereka ngucapin Selamat Natal sama kita. Betewe, buat yang belum tau, gue ini non-muslim, Katolik. Ini juga ada sedikit ngutip dari twitpic nya mas @saputraroy.

Intinya gini, mau diucapin atau enggak, ya ga masalah kok. Ga diucapin juga, perayaan Natal tetap berlangsung. Diucapin, ya makasih banyak. Bener ga ?
Jadi, masalahnya apa vin ?
Disini, gue gak mau nyangkut-nyangkutin agama, ya. Karena gue juga bukan seorang yang ahli dibidang itu. Gue cuma pengamat yang bisa berkoar-koar di blog. Menurut gue, larangan ucap selamat Natal itu sebenarnya, gak masalah bagi kami umat Nasrani. Nah, yang bermasalah itu, spanduk yang dipasang seperti di atas.  Sedikit ngutip dari artikel yang pernah gue baca nih, ternyata gak boleh ucapin selamat Natal itu, karena dianggap kalau ngucapin, mereka mengakui adanya Nabi Isa sebagai anak Allah. Oke, cukup soal agamanya. Gue gak mau berlarut-larut di masalah agama, ujungnya cuma dosa.

Spanduk itu berpotensi besar untuk buat kerusuhan. Kita ini kan Bhinneka Tunggal Ika. Di Indonesia, ada enam agama yang diakui sampai tulisan ini gue terbitkan. Memasang spanduk, itu ada etikanya. Kita gak boleh menyinggung satu dan lain pihak. Gue tau, niat mereka baik, supaya umatnya, gak sampai terjerumus ke dosa. Tapi ya gak gitu juga caranya. Sekilas, kami umat Nasrani ini bagai kaum minoritas, yang gak ada artinya di mata mereka. Kalau udah gini, bentrok antar kaum ga bisa dielakkan lagi. Di satu sisi, niat mereka baik, tapi disisi lain, cara mereka menyampaikan itu salah.

Oke, to the point aja, gue bukan nge-judge agama yang melarang itu, tapi gue nge-judge orang yang sudah membuat dan memasang spanduk itu. Bagi gue, itu hanya akan merusak hubungan baik antar agama yang sudah terjalin hingga kini, dan orang-orang seperti itulah yang pantas kita sebut sebagai terroris.

Eniwei, gue bukannya gak punya temen dari agama lain. Dan gue cukup salut dengan mereka yang menghargai dan menerima gue di dalam lingkungan mereka. Kalau mau dihitung, sebagian besar teman di Facebook dan followers gue di Twitter , itu 80% nya muslim, dan gue gak pernah terlibat adu mulut soal agama dengan mereka. Jadi pesan dari tulsan ini, jadilah umat beragama yang baik, junjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, dan utamakan toleransi antar umat beragama.

Semoga tahun depan, spanduk yang kepasang gini.. 


Terakhir,
SELAMAT HARI NATAL BAGI SELURUH UMAT NASRANI DI DUNIA
walaupun kecepatan dua hari, gapapalah !

6 komentar:

www.kevinfatli.com

Terima kasih sudah membaca di blog ini. Semoga betah ya, heheh.
Jangan lupa komennya, berikan kritik dan saran, agar kami dapat semakin maju. Salam !
- Kevin Fatli (@kevinfatli_)