Haloooooo *teriak*
Setelah lama gak ngutak-ngatik blog ini, akhirnya gue ingat password akun ini. Oke, itu memang luar biasa. Gue, dan kayanya bukan cuma gue, seluruh siswa di Indonesia pasti sekarang lagi berhura-hura karna liburan panjang. Apalagi yang sekolah di negri tuh, beh. Gue yang sekolah di luar negri (re: swasta) ini pengen juga kali.
Liburan panjang, ga panjang-panjang amat sih. Semingguan aja. Liburan kali ini cuma gue habisin di rumah. Menghabiskan persediaan cemilan di lemari, turut serta mempercepat isi ulang galon air, dan memperparah min mata yang udah makin gak karuan ini. Lagian, mau kemana-mana lebaran gini, pasti ramai. Ada yang silaturahmi ke sanak saudara, ada juga yang silaturahmi sama engkong-engkong di mal.
Halo ngkong, selamat idul fitri ye!
Tapi dari liburan seminggu ini, gue dapat satu pelajaran yang berharga. Saking berharganya, uangpun tak bisa membeli pelajaranku ini. Btw, kalo 10 juta, boleh tuh kita negosiasi ulang?
Bercanda mulu vin, pelajaran apa sih?
Sabar kali, udah mau masuk bagian seriusnya nih.
Buruan buruan.
Oke, pelajaran yang gue dapat itu Bersyukur.
Lah, bersyukur? Gue dari TK juga udah belajar itu vin.
Cuma teori? Pengetahuan ga bakal berkembang kalo cuma teori aja yang didapat. Kemarin ini gue baru aja ngerasain apa itu bersyukur. Pengalaman ini bukan dari gue sendiri, tapi berdasarkan pengalaman teman gue.
the story begin... once upon a time..
Sore itu aku sedang berkeliling sekitar rumah, mencari apapun yang bisa kumakan. Mama ku seharian pergi bekerja, tanpa sempat memasak untuk makananku hari ini. Ayahku juga bekerja, maka aku akan sendirian di rumah seharian itu. Aku memang anak tunggal, dan aku selalu dimanjakan di rumah.
Sebut saja namaku Mawar, walaupun aku bukan perempuan, tapi kayanya nama Mawar masih lebih keren daripada Melati atau Anggrek. Aku dididik dalam keluarga Katolik yang tidak kuat. Salib pun tidak ada di rumah. Ke Gereja memakai sistem KBS. Kalau butuh saja. Aku tidak bermasalah dengan itu, karna menurutku itu hal yang tidak penting untuk pergi ke Gereja setiap minggu. Toh tak ada gunanya.
Tapi, Tuhan tak membiarkanku untuk berlama-lama memakai sistem KBS itu. Ia menunjukkan kuasaNya, tidak secara langsung, namun melalui orang disekitarku. Sore itu aku sedang keluar rumah mencari-cari apapun yang bisa kumakan dengan uang yang dititipkan ibu di atas meja makan sebelum ia pergi. Dua ratus ribu, terbilang sedikit untukku. Aku memang seorang yang boros. Uang satu juta bisa kuhabiskan dalam tiga hari. Namun untuk menyumbang, dua ribu saja rasanya berat. Berat sekali.
5 menit aku berjalan, aku menemui tukang gorengan yang berada di pinggir jalan. Aku yang sudah tak kuasa menahan lapar, memilih gorengan itu sebagai pengganjal perutku sebelum makan malam. Aku mendekati tukang gorengan itu, dan mulai memilih-milih gorengan yang akan aku beli. Lima belas ribu kubeli gorengan itu. Penjual itupun geleng-geleng, karna badanku yang terbilang kurus, membeli gorengan sebanyak itu. Aku segera membayar gorengan itu, dan berbalik arah.
Sambil berjalan, kumakan satu gorengan. Setelah habis gorengan itu, kubuang semuanya. Kugeletakkan saja di jalan. Gorengan lima belas ribu itu, hanya satu yang kumakan. Bagiku, orangtuaku juga takakan bermasalah jika aku lakukan itu, toh uang mereka banyak. Membeli gorengan itu sama gerobak-gerobaknya mereka juga bisa.
Baru beberapa langkah aku berjalan, aku mendengar suara kakek-kakek di belakang ku, tempat aku menaruh gorengan tadi. Kakek itu berseru, " Terima kasih Tuhan, kau berikan aku rezeki ini. ".
....
Aku terdiam. Batinku begitu terpukul, kalimat yang singkat namun sangat mengena di hatiku. Aku merasakan kebodohan diriku. Aku lupa akan rezeki yang kuterima, aku lupa akan orangtua yang menyayangiku, aku lupa akan rahmat kehidupan yang ku dapat sampai saat ini, aku lupa akan uang yang mengelilingiku ini. Aku lupa. Aku lupa, bahwa Tuhan-lah yang memberiku semua itu. Namun satu detikpun tak pernah kuluangkan untuk bersyukur kepada-Nya.
Sejak saat itu, aku mulai rajin berdoa ke Gereja dan tidak boros lagi seperti dulu. Terima kasihklinik TongpengTuhan.
*******

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih sudah membaca di blog ini. Semoga betah ya, heheh.
Jangan lupa komennya, berikan kritik dan saran, agar kami dapat semakin maju. Salam !
- Kevin Fatli (@kevinfatli_)